Februari 27, 2012

Tinja menjadi Daging???


Dr. Ikeda

Setelah marak pemanfaatan kotoran/tinja manusia sebagai sumber biogas di kalangan masyarakat, ternyata tinja juga dapat diolah menjadi daging untuk menambah  nilai jual. Seorang ilmuwan asal Okayama Laboratory, Jepang bernama  Mitsuyuki Ikeda melakukan  penelitian terhadap kotoran/ tinja manusia. Dari hasil peneliitian yang dilakukan didapatkan bahwa lumpur  yang berasal dari kotoran/ tinja manusia mengandung 63% protein, 25% karbohidrat dan  3% vitamin yang dapat larut dalam lemak dan 9 % mineral.

Penelitian yang dilakukan ini, untuk membantu pemerintah setempat yang kewalahan dalam menangani banyaknya kotoran /tinja manusia yang harus dibuang  ke laut setiap tahunnya. Akhirnya Ikeda menemukan sebuah cara untuk mengolah kotoran manusia tersebut menjadi daging sintesis.
Proses pengolahan dilakukan mengekstrak protein yang terdapat pada lumpur kotoran/tinja manusia, kemudian setelah mengalami ekstraksi , protein akan dikombinasikan dengan peningkat reaksi. Pengolahan selanjutnya menggunakan mesin canggih yang disebut exploder, untuk memproduksi daging ‘buatan’.
Dari hasil uji coba yang dilakukan, mereka yang telah mengonsumsi ‘daging’ dari kotoran manusia menyebutkan rasanya seperti daging sapi.
Menurut Ikeda dan rekan-rekannya, cara ini merupakan solusi sempurna untuk mengurangi jumlah limbah dan emisi dari perut. Namun sayangnya, masih ada kekurangan dari solusi yang ditawarkan Ikeda. Biaya untuk memproduksi ‘Daging’ buatan itu 10 sampai 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi sungguhan. Akan tetapi, menurut Ikeda harga produksi daging tinja ini akan menjadi lebih murah jika di produksi secara massal.
Apa anda tertarik untuk mencoba???

Februari 15, 2012

MEI KELABU



Meskipun sembilan tahun telah berlalu tapi tetap saja kenangan buruk itu tidak bisa terhapus atau tersamarkan sedikitpun dari memory ku. Masih sangat jelas teringat, ketika beribu-ribu pasukan pencabut nyawa berseragam cokelat dan loreng itu membabi buta mengejarku dan ribuan mahasiswa lainnya, sambil menyemprotkan gas air mata dan melepaskan butiran –butiran timah panas ke udara hingga berakhir di paha kiriku. Ketika aku dan teman-temanku telah mengangkat tangan sebagai tanda menyerah tapi... tetap saja para lelaki berseragam itu menyiksa dan memaki kami semua.
            Tak terasa buliran itu telah menganak sungai dan mengalir kembali di pipiku. Mungkin banyak orang yang membicarakan bahkan mengejek kerapuhanku yang tidak bisa menerima kenyataanku saat ini, setelah kejadian sembilan tahun yang lalu. Memang benar keadaan ku sekarang setelah kejadian itu sangatlah ‘menyedihkan’ tapi bukan hal itu yang membuat aku selalu sedih, yang membuat aku merasa bersalah  karena meskipun begitu aku masih mempunyai seorang istri yang selalu berada disisiku dalam keadaan apapun dan mau menerimaku apa adanya, justru hal yang membuatku sedih adalah karena sampai saat ini aku tak bisa melakukan apapun untuk para sahabatku yang telah mengorbankan segalanya demi bumi pertiwiku ini.
            “Sudahlah, Jo ko tidak perlu ingat-ngat masa lalu itu lagi s’karang ko su disini. Masa lalu itu biar saja jadi kenangan buruk dan pelajaran buat kita semua.” Sebuah suara itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku
            Memang benar kata Nina semua itu sudah berlalu, aku bukan lagi seorang mahasiswa seperti dulu yang sangat bangga tiap kali menggunakan almamater biru tua, yang sangat gemar berorasi, , yang sangat suka menentang keputusan para pejabat yang sangat bertentangan dengan suara hati rakyat kecil, yang selalu berdiri di barisan paling depan tiap kali diadakan demonstrasi termasuk ketika Mei kelabu itu. Ya... sekarang aku bukan lagi seorang  pemuda yang berani seperti dulu bahkan saat ini pun aku harus bersembunyi di kota kecil ini
            “Ingat, Jo su banyak yang ko korbankan untuk negara ini, dan meninggalnya Elang, Sigit, Teddy ataupun yang lainnya bukan ko yang salah. walaupun waktu itu ko yang tugas untuk pimpin demo tapi mau bilang apa kalo yang tong hadapi itu aparat dari rezimnya soeharto. Toh... juga ko liat sekarang pengorbanan tong semua tidak sia-sia setidaknya negara ini sudah berubah, sudah tidak sekejam dulu. Ya... walaupun sampe sekarang mahkamah agung pun belum bisa tentukan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian itu” jelas Nina panjang lebar.
 Sejak kejadian itu aku memutuskan untuk keluar dari ibu kota dan menetap di kota kecil ini bersama Nina. Pada awalnya terasa sangat berat harus hidup dengan  menghindari berbagai ancaman yang datang bertubi-tubi ataupun hutang tanggung jawab moral yang masih belum bisa aku lunasi, tapi tak terasa dikota inilah aku menemukan ketenangan walaupun sebagian hatiku masih merasa bersalah. Tahun demi tahun pun terlewati dengan sangat cepat seperti arus air yang sangat deras, aku pun mulai terbiasa dengan kebudayaan terutama bahasa sehari-hari di sini apalagi aku ditemani oleh Nina. Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa keputusanku untuk menikahinya adalah keputusan yang sangat tepat, seorang wanita yang sangat tangguh dalam kondisi apapun.
            “ Nin, menurut ko keputusan kita tuk tinggal di papua sampe sekarang salah ka tidak? Jujur... sa rasa sepertinya sa ini kayak pengecut” tanyaku ragu
            Ia hanya melemparkan senyum manisnya lalu berkata “ Jo, tong pindah kesini bukan karena pengecut tapi keadaan yang tidak memungkinkan kita untuk tetap tinggal di ibu kota pada saat itu. Tapi satu yang ko harus ingat kita pasti akan kembali kesana untuk buktikan semuanya, untuk meluruskan semuanya tapi tidak sekarang.” segera berbalik berjalan masuk ke dalam rumah.
*****
            Hujan masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti sejak sore tadi, semilir angin pun masih tetap menyapa dengan lembut bagai lagu pengantar tidur. Tetapi tidak dengan ku justru dengan keadaan seperti inilah yang membuat bayangan masa lalu semakin nyata didepan mata. Elang, Sigit.... andai waktu itu aku langsung membawa kalian ke rumah sakit tidak hanya ke klinik Citraland Mall, andai aku bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabku dengan baik, andai aku bisa melakukan sesuatu untuk kalian semua, andai....
 Percuma saja sampai kapan pun kata ‘andai’ yang aku lontarkan tidak akan mengembalikan kalian. Tapi kamu harus tahu, Lang perjuangan kita saat itu tidaklah sia-sia kamu harus lihat keadaan negara kita saat ini, rezim soeharto telah tumbang keadaan sudah berganti, asas demokrasi telah terpampang dengan sangat kokoh.
“hpfuh.....”Sayang Lang sampai meskipun begitu sampai saat ini, lembaga negara pun masih belum bisa menentukan siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ‘Mei Kelabu’ itu. Ingin rasanya aku segera kembali pada tempatku dulu dan mengatakan semuanya tapi tidak sekarang Lang, tidak sekarang. Aku tidak bisa egois akan pada keluargaku karena walaupun telah sembilan tahun tapi tetap saja sampai saat ini Komnas HAM pun tak dapat menjamin keselamatan ku. Tapi aku janji, Lang aku akan secepatnya kembali, aku akan beritahu kepada semuanya, aku akan menegakkan keadilan demi kamu dan teman-teman yang lainnya, aku akan mengungkapkan kejadian ‘Mei Kelabu’ yang sebenarnya kepada dunia.

(Karya: N-M,  Mei 2007)  



BARISAN SAKIT HATI (BSH)



Tiga kata tersebut saya dapatkan ketika terjun dalam sebuah organisasi. Adapun berbagai persepsi yang muncul pun sangat bervariasi, ada yang mengatakan bahwa barisan sakit hati ini adalah kumpulan orang-orang yang tidak bisa bertahan dengan prinsip-prinsip organisasi tersebut dan akhirnya memutuskan keluar jalur kemudian di saat berada diluar organisasi tersebut mereka (kaumBSH-red) mulai menggembar-gemborkan semua kekurangan organisasi yang mereka pernah jalani itu. Mereka terkungkung dalam keegoisan yang menganggap bahwa pemikiran mereka adalah yang paling benar dan jika itu tidak sejalan dengan apa yang dilakukan organisasi maka organisasi telah melakukan kesalahan.
Ada juga yang mengatakan barisan sakit hati adalah kumpulan orang-orang yang sangat mencintai organisasinya itu, saking cintanya sampai dia kecewa ketika organisasinya itu tidak berjalan seperti maunya atau tersendat dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk hengkang dari organisasi tersebut sebelum luka kekecawaan itu semakin besar.
Sementara menurut saya sendiri barisan sakit hati ini sebenarnya muncul karena satu hal, yaitu tidak adanya kepedulian antara sesama anggota organisasi. Anggota organisasi cenderung memikirkan cara penyelesaian masalah eksternal, cara menyelesaikan berbagai proker-proker yang akan mereka pertanggungjawabkan di akhir kepengurusan organisasi, cara memberikan citra positif public pada organisasinya, tanpa mereka sadari bahwa hubungan yang terbentuk bukan karena ikatan batin tapi hanya demi sebuah proker yang harus terlaksana.
Apa mereka pernah bertanya bagaimana keadaannya temannya ketika bertemu?
Apa mereka pernah bertanya tentang keluarga temannya ketika bertemu ?
TIDAK.
Yang mereka tanyakan hanyalah bagaimana perkembangan pelaksanaan proker, berapa jumlah dana yang telah terkumpul untuk terlaksananya proker, akan dilaksanakan kapan proker itu, dsb.
Apa pernah terpikir oleh mereka, mengapa sang teman tidak konsen ketika rapat organisasi?
Apa pernah terpikir oleh mereka, apa yang menyebabkan sang teman jarang terlibat dalam organisasi?
Apa pernah terpikir oleh mereka, apa teman saya sedang dalam kesulitan?
TIDAK.
Mereka tidak pernah berpikir, karena satu-satunya dalam otak mereka adalah PROKER TERLAKSANA!
Mereka masing-masing terkungkung dalam keegoisan masing-masing.
Hal-hal kecil seperti ini yang pada awalnya hanya dianggap sebagai basa-basi tapi taukah kau kawan, bahwa bahasa basa-basi inilah yang membuat ikatan dalam organisasi semakin terasa eratnya. Begitu berbeda jika kita melihat antara pola organisasi zaman dulu yang begitu gigih dan erat dibandingkan sekarang. Saya sendiri bingung membahasakan apa yang terjadi pada kelompok-kelompok organisasi saat ini. Mereka (organisasi saat ini-red) terlalu serius pada proker mereka, ‘pokoknya mau kualitas akhir meragukan yang penting terlaksana’ itu salah satu motto sampingan mereka. Terlaksananya proker berkahir dengan kualitas yang meragukan dan pertemanan antara anggotanya pun berakhir setelah proker terlaksana. Mungkin ada juga yang bertahan bahkan menjadi sahabat, tetapi berapa persen? 10%? 5%? Atau 1%?
Organisasi bukan hanya tempat untuk menjalankan berbagai proker-proker bulshit yang selalu kalian dewa-dewakan dan kalian anggap lebih prioritas dibandingkan akademik. Tapi satu hal yang merupakan tujuan utama organisasi didirikan dan alas an jugamengapa kalian mau untukbergabung dengan organisasi yaitu terbentuk nyata tali persaudaraan dan kesepemahaman antara setiap anggotanya. Sekarang permasalahannya bagaimana mau terbentuk tali persaudaraan kalau tiap kali ketemu Cuma satu yang ditanyakan tentang proker, yang dituntut proker, yang di-sms rapat, yang diposting di wall Fb Cuma rapat proker.
Barisan sakit hati sebenarnya muncul karena hal ini, karena keegoisan kedua belah pihak baik sang BSH maupun orang-orang yang masih di dalam organisasi. Mereka condong tak tahu bagaimana cara mengendalikan emosi pribadi dan tak tahu cari mengendalikan temannya sendiri. Lagi-lagi saya kembali pada pembahasan saya sebelumnya dimana alasan dari semua ini adalah ketidakpedulian antar sesame dan kekakuan sebuah organisasi.
Saya percaya dan yakin kejelekan organisasi tidak hanya dibicarakan oleh para barisan sakit hati saja, mereka yang masih pada organisasi tersebut juga membahasnya. Lalu mengapa harus muncul kaum Barisan sakit hati ini jika sebenarnya semua yang dibicarakan sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Mengapa kita tidak merekonstruksi ulang dari awal pola organisasi yang kaku saat ini menjadi lebih cair dan juga menjadi lebih peduli antar sesama anggota?
Minimal hal ini akan mengurangi kaum Barisan Sakit Hati di masa yang akan datang.